Rafa Si Sigma
Di sebuah sekolah negeri yang cukup terkenal, ada seorang siswa bernama Rafa. Ia selalu datang tepat waktu, memakai seragam rapi lengkap dengan peci hitam, dan duduk di kelas paling belakang. Bukan karena malas, tapi karena ia suka mengamati keadaan tanpa banyak bicara.
Teman-temannya sering heran, kenapa Rafa jarang ikut nongkrong atau bercanda lama-lama. Ia hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus pada bukunya. Saat istirahat, ia duduk di kantin sendirian sambil menyeruput teh hangat. Tapi anehnya, banyak orang tetap menghormatinya.
Rafa bukan tipe yang mencari perhatian, tapi diam-diam ia sering membantu orang. Ketika ada teman yang kesulitan mengerjakan PR matematika, Rafa membantu dengan sabar. Saat ada yang sedih, ia mendengarkan tanpa menghakimi.
Bagi Rafa, menjadi sigma bukan soal menyendiri tanpa alasan. Baginya, itu adalah cara untuk menjaga diri, mengamati dunia, dan bertindak tepat di waktu yang pas. Ia tahu bahwa diamnya lebih bermakna daripada kata-kata kosong.
Di akhir semester, Rafa berhasil meraih peringkat tiga besar. Saat semua orang bertepuk tangan, ia hanya mengangguk, lalu berjalan keluar kelas sambil tersenyum tipis. Begitulah, Rafa… si sigma yang tak banyak bicara, tapi selalu punya makna.
Komentar
Posting Komentar